Mengapa ada orang yang “miskin”,
namun kelihatannya mudah bahagia?
Sebaliknya,
mengapa ada orang yang, walaupun telah memiliki banyak hal dalam hidupnya,
sulit untuk merasa bahagia?
Bila begitu,
apa sih yang membuat rasa bahagia itu?
Sebenarnya, untuk menjadi bahagia itu mudah.
Yuk, mari kita uji apakah Anda seorang yang mudah merasa bahagia?
Lengkapilah pernyataan-pernyataan di bawah ini dengan kata-kata yang spontan terlintas dalam pikiran Anda.
Saya merasa bahagia, kalau …
1. ___________________________
2. ___________________________
3. ___________________________
Sekarang, mari kita periksa jawaban Anda;
Bila jawaban Anda adalah sesuatu yang sulit dan belum Anda miliki,
maka Anda adalah seorang yang sulit merasa bahagia.
Lha, untuk menjadi bahagia saja syaratnya berat.
Contoh;
Saya merasa bahagia kalau kaya.
Saya merasa bahagia kalau punya rumah.
Saya merasa bahagia kalau jadi direktur utama.
Artinya,
kalau Anda belum kaya atau punya rumah atau jadi direktur utama,
Anda tidak merasa berbahagia?
Namun,
bila jawaban Anda adalah kejadian sehari-hari, atau
sesuatu yang mudah Anda peroleh, atau
sesuatu yang telah Anda miliki,
maka Anda dapat berbahagia sepanjang waktu dalam kehidupan Anda.
Contoh;
Saya berbahagia kalau melihat anak saya tersenyum.
Saya merasa bahagia kalau melihat matahari terbit.
Saya merasa bahagia kalau berangkat kerja.
Apakah Anda akan selalu melihat buah hati Anda tersenyum? Sering?
Apakah Anda akan melihat matahari terbit besok atau lusa? Bisa?
Apakah Anda masih berangkat kerja besok? Masihkah?
Berbahagialah!
Karena bahagia itu meyenangkan.
Sederhana-lah!
Karena sederhana itu mudah.
Mulai-lah!
Untuk bahagia saja koQ dengan syarat berat!
Berbahagialah!
Hari ini juga ...
Terima kasih,
Suyana Smart
Sunday, June 6, 2010
Wednesday, May 5, 2010
Mengeluh Vs BerSyukur II
Alhamdulillah sudah lama banget nih baru lanjut, tentunya porsi mengeluh kita sudah semakin berkurang. tapi masa ia cuma mengurangi porsi mengeluh atau bahkan meghilangkan menu mengeluh tiap hari dapat meningkatkan kwalitas kehidupan kita? Sepertinya kita akan tahu jawabannya jika kita melakukannya.bagian kedua dimulai setelah pembahasan tugas pertama selesai. Saya memberi selembar kertas yang tertulis: ”Saya bersyukur karena” dibagian atas halaman. Ada tiga kolom dibawahnya. Ada tiga kolom dibawahnya. Kolom pertama dengan label: ”Benda’. Dibawah kolom tersebut mereka diminta mendaftar semua semua benda material yang membuat mereka bahagia karena memilikinya. kolom kedua berlabel: ”Orang.” Mereka mendaftar semua orang yang mereka hormati. Kolom ketiga berlabel: ”Lain-lain.” dibawah kolom tersebut, mereka mendaftar semua hal yang mereka syukuri selain apa yang ada pada kolom sebelumnya. Kolom ”benda” dan ”orang” diisi dengan cepat. Kolom ”lain-lain” diisi lebih lama. Saya mendapatkan pertanyaan seperti: ”Apa yang Anda maksud?” dan ”Bisakah Anda memberi kami beberapa contoh?” Sehingga, saya meminta mereka memberikan beberapa contoh untuk membantu memulai tugas tersebut. Berikut ini adalah contoh ”lain-lain” yang muncul dalam diskusi kami: kebebasan, kesempatan, persahabatan, cinta, kecerdasan, kemampuan, kesehatan, bakat,perdamaian, keyakinan, Tuhan, keamanan, proses pembelajaran, pengalaman,kecantikan, kebaikan dll. Dalam waktu sekitar 20 menit, ketiga kolom sudah terisi semua.
Bagia ke tiga dari tugas segera dimulai. Selama 24 jam berikutnya, mereka diminta untuk membaca daftar mereka empat kali: Setelah makan siang, setelah makan malam, sebelum tidur, dan keesokan harinya sebelum berangkat kesekolah atau pergi kerja. Keesokan harinya, saya bertanya apakah mereka merasakan ada perbedaan setelah melakukan eksperimen untuk tidak mengeluh.
Sebenranya saya sudah tahunjawabannya. Bahasa tubuh mereka ketika memasuki kelas jelas berbeda, tidak hanya dengan hari kemarin tetapi juga dengan hari-hari lain sebelumnya. Lebih banyak senyum, mata yang terbuka lebih lebar, dan tubuh menjadi lebih hidup. Apakah ini sulapan? Tidak, ini hanya masalah dengan penghargaan. Bersyukur sangat baik untuk jiwa. Yang harus kita lakukan adalah bertanya pada dri sendiri apa yang menjadi perhatian kita. Jika kita memusatkan pada apa yang benar dan bukan pada apa yang salah, maka hidup kita akan bertambah baik.
Bersyukur akan menjadi suatu kebiasaan jika dilakukan secara teratur. Bersyukur merupakan hal terbaik yang kita miliki karena merupakan cara yang paling tepat memandang kehidupan. Bersyukur bukan hanya merupakan suatu kebiasaan, tetapi juga merupakan sebuah sikap. Mampu menghargai apa yang kita miliki adalah salah satu kunci pemuasan diri. Kebahagiaan sejati dimulai dengan bersyukur. Mungkin itulah sebabnya dalam semua agama mangajarkan kepada kita bahwa kita harus memulai do’a dengan bersyukur bukannya meminta.
Bukankan sangat disayangkan jika 'Thanksgiving' datang hanya sekali dalam setahun? Saat Lebaran?! Ini adalah satu-satunya kesempatan dimana kita diminta untuk beristirahat sejenak dan berpikir tentang semua yang kita miliki dan merayakannya dengan orang yang kita sayangi. Sungguh, tidak ada alasan jika kita tidak dapat melakukannya setiap hari sepanjang tahun. Kita tidak harus menetapkan hari libur dan makan SATE KILOAN, HANAMASA, BEBEK GORENG atau tempat makan yang mewah untuk merayakan rasa syukur kita.
Apakah hidup Anda akan berbeda jika Anda memiliki salah satu dari 3 kolom tersebut dan membacanya empat kali sehari? Saya kira ya, dan ada cara yang mudah untuk membuktikan kebenarannya. Butuh waktu sekitar 20 menit untuk mengisi 3 kolom tersebut dan beberapa menit sehari untuk membacanya ulang.
Cara tersebut berhasil. Saya jamin. karena saya melakukannya dan berhasil. Ini adalah permulaan yang baik untuk belajar menghargai. Seperti halnya pikiran dan tindakan lainnya yang sering kali diulang, bersyukur dapat menjadi statu cara hidup. Yaitu jika kita memilihnya sebagai sebuah sikap dan menjadikannya sebagai suatu kebiasaan.
Saya rasa kita semua bisa melakukannya, PASTI!
Setelah kita Mencoba menghentikan keluhan, sekarang waktunya Bersyukur..
Hanya hal sederhana yang harus kita lakukan:
Pertama, siapkan selembar kertas
Kedua, bagi kertas tersebut menjadi tiga bagian (kolom)
ketiga, dalam setiap kolom tersebut kolom pertama di isikan tentang 'Benda', kolom kedua di isikan tentang 'Orang' dan kolom ketiga di isikan tentang 'Lain-Lain'.
Keempat, dan ini yang terakhir: Baca minimal 4 kali sehari semua yang Anda tulis, setelah makan siang, setelah makan malam, sebelum tidur, dan keesokan harinya sebelum berangkat kesekolah atau pergi kerja.
Kuncinya : "Kerjakan apa yang Anda tulis, Tulis apa yang Anda kerjakan" Anonim
SALAM THE BEST
Suyana Smart
"Kerjakan apa yang Anda tulis, Tulis apa yang Anda kerjakan"
Anonim
Wednesday, February 10, 2010
Mengeluh Vs Syukur Bag I
Mengeluh adalah sebuah hal sederhan yang kadang kita tidak perhatikan efek negatifnya, bahkan dijadikan sebuah alasan untuk lari dari masalah.
Sering kali kita selalu mengeluh tentang orang lain, keadaan, diri kita bahkan tentang Tuhan, saya pun melakukannya (dulu), tapi sekarang alhamdulillah berkurang bahkan saya mengupayakan untuk tidak melakukannya dan ternyata hasilnya sungguh mengagumkan.
Eksperimen pertama berupa latihan sederhana – mudah untuk dibicarakan tetapi tidak mudah untuk dilaksanakan. saya sudah melakukan ini beberapa Tahun terkahir, dan saya pun mengajak orang lain untuk melakukan hal yang sama dalam setiap kesempatan.
Saya memulai hari Pertama dengan tanpa mengeluh. selama 24 jam tersebut, saya menuliskan setiap keluhan yang saya lakukan. karena baru satu jam pertama saya sudah mengeluh berkali-kali, tapi saya tidak berhenti sampai disitu, saya tetap melanjutkan hal tersebut sampai 24 jam berlalu.
Hal yang sungguh mencengangkan saya bahwa hal yang saya keluhkan bukanlah hal yang penting dan tidak ada gunanya saya lakukan, tapi saya sudah melakukannya. (pandai sekali... ).
Akhirnya saya mulai menghentikan keluhan keluhan bodoh tentang apa yang terjadi terhadap saya dan juga disekitar saya.. wal hasil semua kehidupan saya semakin menyenangkan..
Saya tidak meminta Anda untuk mengikuti hal yang saya lakukan, tapi saya melakukan ini di akhir seminar yang saya berikan.. dan memberikan Tugas kepada para peserta untuk melakukan hal sederhana.
Peserta saya minta untuk menjalani 24 berikutnya tanpa mengeluh.
(Respon pertama biasanya adalah keluhan tentang tugas tersebut)
Setelah membicarakan tentang keluhan tersebut (membahas beberapa bagian penting dari tugas)
Saran pertama dari saya adalah mereka tidak boleh menghentikan eksperimen meskipun mereka gagal dan mengeluh dalam satu jam pertama (karena sebagian besar melakukannya).
Meskipun mereka tidak dapat menjalani 24 jam tanpa mengeluh, saya meminta mereka paling tidak mereka melihat seberapa sedikit mereka mengeluh dalam sehari. Sehingga saya menyarankan mereka untuk membawa selembar kertas ketika mereka mencobanya dan menuliskannya setiap kali mereka akan mengeluh.
Hari berikutnya kami membahas hasil tugas tersebut. Saya meminta peserta menebak berapa orang yang mampu bertahan untuk tidak mengeluh sejak sehari kemarin. Mereka semua menebak dan saya juga. Di kelas dengan jumlah siswa sebanyak 30 orang, tebakan mereka biasanya berkisar antara 6-12 orang. Tebakan saya selalu nol. Dan tebakan saya selalu benar karena saya sudah mengetahuinya berdasarkan pengalaman-pengalaman terdahulu.
Bagian terpenting dari eksperimen saya adalah bahasan berikut ini:
Saya menanyakan dua pertanyaan sederhana.
1. Apakah tujuan tugas tersebut?
2. Apa yang kamu dapatkan dari eksperimen tersebut?
Selalu ada persamaan dari jawaban kedua pertanyaan tersebut.
Jawaban dari pertanyaan pertama biasanya seperti ini: ”Anda ingin menunjukan kepada kami berapa kali kami mengeluh.” Benar.
Jawaban kedua biasanya: ”Saya belajar bahwa sesunguhnya saya tidak perlu banyak mengeluh. Apa yang saya lakukan adalah hal yang bodoh.” sekali lagi benar.
Apakah mereka benar-benar mengaluh atau ingin mengeluh, yang pasti mereka menyadari betapa seringnya mereka mengeluh dan betapa remehnya keluhan mereka.
Tetapi itu hanyalah bagian pertama dari tugas.
Untuk tugas berikutnya kita akan sambung Besok ya.. setelah kita mencoba untuk tidak mengeluh selama 24 jam kedepan.
Sampai jumpa Besok..
to be continued
Sering kali kita selalu mengeluh tentang orang lain, keadaan, diri kita bahkan tentang Tuhan, saya pun melakukannya (dulu), tapi sekarang alhamdulillah berkurang bahkan saya mengupayakan untuk tidak melakukannya dan ternyata hasilnya sungguh mengagumkan.
Eksperimen pertama berupa latihan sederhana – mudah untuk dibicarakan tetapi tidak mudah untuk dilaksanakan. saya sudah melakukan ini beberapa Tahun terkahir, dan saya pun mengajak orang lain untuk melakukan hal yang sama dalam setiap kesempatan.
Saya memulai hari Pertama dengan tanpa mengeluh. selama 24 jam tersebut, saya menuliskan setiap keluhan yang saya lakukan. karena baru satu jam pertama saya sudah mengeluh berkali-kali, tapi saya tidak berhenti sampai disitu, saya tetap melanjutkan hal tersebut sampai 24 jam berlalu.
Hal yang sungguh mencengangkan saya bahwa hal yang saya keluhkan bukanlah hal yang penting dan tidak ada gunanya saya lakukan, tapi saya sudah melakukannya. (pandai sekali... ).
Akhirnya saya mulai menghentikan keluhan keluhan bodoh tentang apa yang terjadi terhadap saya dan juga disekitar saya.. wal hasil semua kehidupan saya semakin menyenangkan..
Saya tidak meminta Anda untuk mengikuti hal yang saya lakukan, tapi saya melakukan ini di akhir seminar yang saya berikan.. dan memberikan Tugas kepada para peserta untuk melakukan hal sederhana.
Peserta saya minta untuk menjalani 24 berikutnya tanpa mengeluh.
(Respon pertama biasanya adalah keluhan tentang tugas tersebut)
Setelah membicarakan tentang keluhan tersebut (membahas beberapa bagian penting dari tugas)
Saran pertama dari saya adalah mereka tidak boleh menghentikan eksperimen meskipun mereka gagal dan mengeluh dalam satu jam pertama (karena sebagian besar melakukannya).
Meskipun mereka tidak dapat menjalani 24 jam tanpa mengeluh, saya meminta mereka paling tidak mereka melihat seberapa sedikit mereka mengeluh dalam sehari. Sehingga saya menyarankan mereka untuk membawa selembar kertas ketika mereka mencobanya dan menuliskannya setiap kali mereka akan mengeluh.
Hari berikutnya kami membahas hasil tugas tersebut. Saya meminta peserta menebak berapa orang yang mampu bertahan untuk tidak mengeluh sejak sehari kemarin. Mereka semua menebak dan saya juga. Di kelas dengan jumlah siswa sebanyak 30 orang, tebakan mereka biasanya berkisar antara 6-12 orang. Tebakan saya selalu nol. Dan tebakan saya selalu benar karena saya sudah mengetahuinya berdasarkan pengalaman-pengalaman terdahulu.
Bagian terpenting dari eksperimen saya adalah bahasan berikut ini:
Saya menanyakan dua pertanyaan sederhana.
1. Apakah tujuan tugas tersebut?
2. Apa yang kamu dapatkan dari eksperimen tersebut?
Selalu ada persamaan dari jawaban kedua pertanyaan tersebut.
Jawaban dari pertanyaan pertama biasanya seperti ini: ”Anda ingin menunjukan kepada kami berapa kali kami mengeluh.” Benar.
Jawaban kedua biasanya: ”Saya belajar bahwa sesunguhnya saya tidak perlu banyak mengeluh. Apa yang saya lakukan adalah hal yang bodoh.” sekali lagi benar.
Apakah mereka benar-benar mengaluh atau ingin mengeluh, yang pasti mereka menyadari betapa seringnya mereka mengeluh dan betapa remehnya keluhan mereka.
Tetapi itu hanyalah bagian pertama dari tugas.
Untuk tugas berikutnya kita akan sambung Besok ya.. setelah kita mencoba untuk tidak mengeluh selama 24 jam kedepan.
Sampai jumpa Besok..
to be continued
Subscribe to:
Posts (Atom)